Lamb for Brain

January 8, 2008

ASAL USUL DOMBA GARUT

Filed under: Artikel - dombakambing @ 4:02 am

Artikel ini Sudah Dimuat pada Majalah Mandala Peternakan Edisi III
Denie Heriyadi

 

Proses terbentuknya Domba Priangan atau Domba Garut, sementara ini diyakini  berawal dari persilangan tiga bangsa domba, yaitu Domba Merino, Domba Kaapstad, dan Domba Lokal dari Wilayah Priangan, sehingga dalam perkembangan selanjutnya dikenal dengan nama Domba Priangan atau Domba Garut, karena awal persilangan dan perkembangan Domba Priangan terbaik berasal dari daerah Garut.

Tahun 1864 pemerintah Belanda mulai memasukkan Domba Merino yang pemeliharaannya diserahkan pada KF Holle, Tahun 1869 domba-domba tersebut dipindahkan ke Garut, dan secara bertahap dilakukan penyebaran ke beberapa penggemar domba, antara lain kepada Bupati Limbangan (satu pasang) dan Van Nispen seekor pejantan Merino yang pada saat itu kebetulan memiliki seekor domba Kaapstad, serta disebarkan ke beberapa daerah lain, seperti ke Kabupaten Sumedang, Garut, dan Bandung (Merkens dan Soemirat, 1926). Penyebaran tersebut merupakan cikal bakal terbentuknya ras Domba Priangan atau Domba Garut. Persilangan yang telah berlangsung secara terus menerus selama puluhan tahun, dan berjalan tanpa suatu program dan arah yang jelas, antara Domba Merino X Domba Lokal, Domba Merino X Domba Lokal X Domba Kaapstad, banyak diyakini oleh para peneliti bahwa ini merupakan asal usul terbentuknya ras Domba Priangan. Namun demikian, kajian secara ilmiah belum dapat diungkapkan dengan pasti, khususnya kajian dari sisi komposisi darah dan gena Domba Garut (Heriyadi, 2002).

Versi Lain Mengenai Asal-usul Domba Priangan atau Domba Garut

 
Versi lain mengenai asal-usul perkembangan Domba Garut diyakini berasal dari domba lokal asli Garut, yaitu dari Daerah Cibuluh dan Cikeris di Kecamatan Cikajang serta dari Kecamatan Wanaraja. Keyakinan tersebut dilandasi oleh teori bahwa seluruh bangsa domba yang ada di dunia dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu kelompok domba bermuka putih (white face) dan domba bermuka hitam (black face). 
Domba-domba muka putih secara genetik membawa warna yang lebih dominan dibandingkan warna pada domba muka hitam, sedangkan domba-domba yang diimpor masuk ke Indonesia sejak Jaman Belanda sampai sekarang kebanyakan dari kelompok domba muka putih (termasuk Domba Merino, Texel, dan Domba Ekor Gemuk), sehingga warna hitam yang banyak terdapat pada Domba Garut  dipercaya berasal dari domba lokal, khususnya  domba lokal dari daerah Cibuluh dan Wanaraja  yang sejak dahulu dikenal dengan domba-dombanya yang dominan berwarna hitam, termasuk dominan hitam pada tubuh secara keseluruhan, di samping itu Domba Cibuluh memiliki ciri yang sangat spesifik, yaitu bertelinga rumpung (rudimenter) dengan ukuran panjang kurang dari 4 cm atau ngadaun hiris (4 - 8 cm), sedangkan domba-domba lokal rata-rata memiliki daun telinga yang rubak dengan ukuran panjang lebih dari 8 cm.
Teori Merkens dan Soemirat yang menyatakan bahwa Domba Priangan berasal dari persilangan yang kurang terencana dari tiga bangsa domba (Merino X Lokal X Ekor Gemuk), itu pun dapat diterima sejauh belum ada pembuktian melalui penelitian darah dan gena yang terdapat pada Domba Garut atau Domba Priangan, namun demikian hal tersebut dapat mengaburkan keberadaan domba asli Cikajang (Cibuluh dan Cikeris) dan Wanaraja, karena domba asli Kecamatan Cibuluh dan Kecamatan Wanaraja Garut telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu, jauh sebelum Domba-domba impor dimasukkan ke Indonesia.
Bahkan yang perlu dikaji, baik secara historis mau pun sosiologis mengenai keberadaan salah satu relief pada situs yang terdapat di Candi Prambanan, pada situs tersebut terlihat  dua ekor domba yang saling berhadap-hadapan sebagai hewan persembahan, ke dua domba tersebut, memiliki beberapa karakteristik yang mirip dengan ciri khas Domba Priangan, antara lain kuping yang ngadaun hiris mendekati rumpung dengan tanduk ngabendo, profil muka cembung,  dan bulu pada bagian di seputar lehernya yang dibiarkan tumbuh memanjang (bulu yang saat ini dibiarkan terjurai di bawah leher pada Domba Garut atau disebut nyinga, merupakan modifikasi dari pola pencukuran bulu pada waktu itu), artinya domba pada situs tersebut sangat mirip dengan performa Domba Garut yang pada abad ke delapan, telah ditemukan di daerah Jawa Tengah, domba tersebut dipandang sebagai domba terbaik dari domba-domba yang ada pada masa lalu, karena tidak mungkin domba yang berkualitas rendah dijadikan hewan persembahan yang diabadikan dalam bentuk relief pada sebuah candi yang besar, sekelas Candi Prambanan.
Pertanyaannya adalah, apakah domba tersebut berasal dari daerah Garut atau pada masa itu berasal dari Kerajaan Padjadjaran ? atau asal Domba Garut sekarang ini berasal dari daerah Jawa Tengah (Kerajaan Mataram) ?.  Namun bila dilihat dari segi daya adaptasi, keberadaan, dan  perkem-bangannya, Domba Garut yang ada pada saat ini, dapat disimpulkan bahwa relief domba yang terdapat pada situs di Candi Prambanan tersebut, merupakan Domba Garut yang berasal dari Kabupaten Garut dan dibawa ke Wilayah Jawa Tengah pada abad ke VII atau VIII.
Kuping yang rumpung pada Domba Garut atau Domba Priangan adalah ciri yang sangat khas, dan tidak terdapat pada bangsa domba yang lain,  namun konon kuping sejenis ini terdapat pula pada salah satu bangsa domba di sekitar Turki dan Spanyol.


 

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://dombakambing.blogsome.com/2008/01/08/asal-usul-domba-garut/trackback/

  1. kang, kumaha mun domba bisa ngomong. Naha masih keneh daekeun diadu.

    Comment by ade djulardi — February 15, 2008 @ 2:55 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam measure: please retype the above text into the box provided.

Selamat Tahun Baru Hijriah 1 Muharam 1430 H & Tahun Baru 1 Januari 2009.

Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Janis Joseph